Mengoptimalkan Ramadhan Sebagai Pembangun karakter Bangsa

Bulan
Ramadan adalah salah satu
bulan penting dan suci tidak
hanya bagi umat Islam,
tetapi seluruh umat di dunia.
Bayangkan, seluruh hal-hal
yang menyimpang dan
mengganggu tatanan sosial-
masyarakat ditertibkan
untuk menyambut dan
mensucikan bulan ini.
Puasa pun diwajibkan bagi
seluruh Umat Islam di dunia
dan tidak menutup
kemungkinan umat yang lain
ikut berpuasa sebagai bagian
dari sinergi strategis untuk
menjaga kerukunan antar
umat beragama. Dampaknya
terlihat cukup signifikan,
aktivitas-aktivitas negatif
berhasil ditekan dan
digantikan dengan aktivitas
dengan nilai-nilai spiritual.
Tidak hanya itu, media massa
pun turut menyambut
dengan meningkatkan
program-program religius di
bulan Ramadan ini.
Mari kita perluas cakrawala
bahwa Ramadan
sesungguhnya merupakan
momen yang
tepat membentuk karakter
bangsa Indonesia. Kita lihat
kewajiban untuk berpuasa
di bulan Ramadan adalah
suatu latihan yang luar biasa
akan makna sebuah
kejujuran.
Siapa yang bisa
membedakan orang yang
puasa dan tidak selain diri
sendiri dan Tuhannya?
Kemudia dalam berkata pun
juga demikian. Semakin
banyak kebohongan, maka
semakin tidak bermaknalah
puasa orang itu. Maka sudah
jelas, orang yang berpuasa
seharusnya terus menjaga
nilai-nilai kejujuran di setiap
aspek kehidupannya. Nilai
kejujuran ini sangat
merupakan tantangan
terbesar yang dialami
Indonesia saat ini di tengah
banyaknya korupsi dan
beragam kasus mafia yang
ada.
Kemudian melaksanakan
puasa dari subuh sampai
maghrib, kewajiban
melaksanakan
salat 5 waktu, anjuran
bersedekah dan tarawih
dengan rakaat 11 dan 23
bukankah
mengajarkan kita untuk
bertanggungjawab?
Bertanggungjawab di sini
adalah melaksanakan
amanah yang memang telah
diperintahkan. Tidak
menambah, mengurangi,
bahkan mengubah substansi
yang ada. Nilai-nilai
tanggungjawab ini wajib
dipelihara tidak hanya dalam
ibadah, tetapi juga dalam
mengerjakan setiap tugas
yang diemban. Maka tidak
akan ada rasa capek dan
malas bila kita memang
bersungguh-sungguh
menempa diri di bulan
Ramadan.
Kita juga harus ingat untuk
apa kita susah payah
berpuasa di bulan Ramadan.
Untuk apa kita puasa dan
salat 5 waktu? Untuk apa kita
mencoba mengkhatamkan
al-Qur’an di bulan ini? Untuk
apa kita salat tarawih sampai
11 bahkan 23 rakaat?
Bukankah ini mengajarkan
kepada kita nilai-nilai
visioner untuk menggapai
surgaNya? Bukankah ini
mengajarkan sebuah
integritas bahwa kita ada di
sini sebagai hamba Tuhan?
Maka nilai visioner dan
integritas kuat ini harus kita
bawa dalam setiap aspek
kehidupan, mulai dari jangka
pendek, menengah, dan
panjang untuk membuat
bangsa Indonesia menjadi
lebih baik.
Tuhan juga mengajarkan
kepada kita melalui
Ramadan ini untuk
menghargai waktu melalui
momen sahur dan berbuka
puasa. Melaksanakan shalat
secara tepat waktu dan
berpuasa sesuai waktu yang
ditetapkan. Kedisiplinan. Itu
hikmah penting yang bisa
diambil. Maka seharusnya
kita heran ketika kita yakin
salat dan puasa kita benar,
tetapi masih sering telat
menghadiri rapat atau
perjanjian yang telah dibuat.
Ramadan juga menjanjikan
pahala puluhan kali lipat atas
kebaikan yang dilakukan
dibandingkan bulan lain.
Perintah zakat, bersedekah,
dan memberikan apa yang
kita miliki secara sukarela
kepada yang membutuhkan
mengajarkan kepada kita
pentingnya berlaku adil dan
peduli terhadap sesama.
Substansi dasarnya bukanlah
berapa banyak beras yang
diberikan, berapa banyak
uang yang disedekahkan,
tetapi apakah dengan itu
semua kita seterusnya bisa
peka terhadap kondisi sosial
di sekitar kita? Itulah poin
yang terpenting sebenarnya.
Ramadan sudah memasuki
10 hari terakhir. Apabila kita
melihat masjid-masjid, maka
di sana terlihat fenomena
rutin dari tahun ke tahun
bahwa semakin hari jamaah
shalat berkurang. Ramadhan
padahal belum berakhir. Hari
kemenangan belum tiba,
tetapi mengapa semangat
sudah luntur? Kalau begitu
ke mana nilai-nilai kejujuran
ini setelah Ramadan
berakhir? Bisakah kita semua
menekan angka korupsi dan
kasus-kasus persekongkolan
kotor yang menunjukkan
krisis kejujuran negeri ini?
Setelah Ramadan ini
berakhir, mampukah kita
mempertahankan
tanggungjawab dan
menjalankan amanah yang
diberikan kepada kita
dengan baik? Mampukah
para pemimpin membuat
sejarah yang mengharumkan
nama Indonesia? Setelah
Ramadan ini berakhir,
mampukah kita untuk terus
visioner dan membuat
bangsa ini memiliki visi yang
jelas ke mana arah yang
ingin dituju? Setelah
Ramadan berakhir,
mampukah kita terus
mempertahankan semangat
kedisiplinan dan menghargai
waktu?
Masih adakah kata terlambat,
excuse, dan ngaret dalam
kamus kita? Bagaimana
dengan rasa adil dan peduli
kepada sesama? Apakah
semua itu akan hilang dan
membuat kita mengacuhkan
kehidupan sosial sekitar kita
ketika zakat fitrah sudah kita
berikan? Apakah hanya
sebatas itu kita memaknai
zakat?
Maka mengapa kita tidak
mengoptimalkan Ramadan
kita kali ini dengan menjaga
semangat dan menerapkan
nilai-nilai yang sudah
diajarkan? Kita tidak boleh
hanya membiarkan mata
kita yang melihat bahwa
Ramadan ini adalah bulan
pembentukan karakter,
tetapi juga harus dimaknai
dengan hati. Yang
diperlihatkan Indonesia saat
ini, Ramadan adalah bulan
menuai amal dan berbuat
baik.
Setelah Ramadan kembali
melakukan maksiat dan dosa
yang menghancurkan negeri
ini. Kita pasti mengetahui
dan heran kenapa koruptor
negeri ini korupsi padahal
sudah banyak melewati
bulan Ramadan? Ramadan
itu hanya sebatas ritual, tidak
diintegrasikan dalam
kehidupan.
Maka dengan 10 malam
terakhir ini, jadikan Ramadan
yang hanya 30 hari ini
sebagai proses penempaan
karakter bangsa Indonesia.
Ambil hikmah sebanyak-
banyaknya dari bulan
Ramadan ini. Terapkan nilai
dan hikmah itu dalam
kehidupan selanjutnya,
karena sungguh ujian yang
lebih berat akan datang
setelah kita melewati bulan
Ramadan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: