Skripsi Tarbiyah-Pai Gratis :

24 April 2012

Bagi rekan-rekan mahasiswa semester akhir Strata 1 / S-1 jurusan Tarbiyah-Pendidikan Agama Islam (PAI) yang kesulitan dalam penyusunan Skripsi,berikut ini saya berikan Link untuk men-download contoh Skripsi Tarbiyah-Pendidikan Agama Islam (PAI).
DOWNLOAD 1
DOWNLOAD 2
DOWNLOAD 3
DOWNLOAD 4
DOWNLOAD 5
DOWNLOAD 6
DOWNLOAD 7
DOWNLOAD 8
DOWNLOAD 9
DOWNLOAD 10
DOWNLOAD 11
DOWNLOAD 12
Semoga bermanfaat…


PINDAH ALAMAT

30 Agustus 2011

UNTUK PENATAAN PORTAL ATAU WEBSITE,MAKA SEGALA INFORMASI BERBAGAI BENTUK PENYIMPANGAN ATAU PENYELEWENGAN BIROKRASI YANG MERUGIKAN NEGARA,YANG TERJADI DI KEC.CIRACAP-KAB.SUKABUMI.
DENGAN BERAT HATI MULAI SAAT INI,HARI SELASA TANGGAL 30 AGUSTUS 2011 WEBSITE/BLOG INI
DI ALIHKAN KE ALAMAT YANG BARU,YAITU :

CIRACAP GATE ONLINE
TERIMA KASIH
JARINGAN PEDULI CIRACAP-Team


GURDACIL SALAH SASARAN“UANG NEGARA DI RAMPOKGURU GADUNGAN”

26 Agustus 2011

GURDACIL adalah bantuan keuangan dari Pemerintah
untuk seorang Guru yang
mengajar di sekolah-sekolah
yang di kategorikan terpencil
oleh pemerintah.
Namun,bagaimana jika bantuan Gurdacil tersebut salah sasaran.Dimana orang
yang mendapat bantuan Gurdacil tersebut bukanlah seorang guru? Jelas…ini sebuah
penyelewengan anggaran
negara !!!
Ini adalah sebuah kisah
nyata,untuk itu kepada pihak
yang berwenang mohon di usut tuntas agar hal semacam
ini tidak terus terjadi
berulang-ulang di negeri
tercinta ini.
Kejadian Gurdacil salah sasaran ini terjadi di SDN
CIGEBANG,yang berada di
bawah naungan UPTD DINAS
PENDIDIKAN Kec.Ciracap-
Kab.Sukabumi-Jawa Barat
43176. Dimana adalah seorang GURU GADUNGAN bernama sdr.EGI mendapat bantuan Gurdacil sebesar (sekedar
perkiraan,jumlah aslinya bisa
kurang atau lebih )
Rp.1.350.000 X 12 Bulan =
Rp.16.200.000.
Sdr. EGI mendapat uang Gurdacil sebesar Rp.16.200.000
pada bulan November tahun
2010 lalu,dengan pencairan via
rekening bank.
Kenapa Sdr.EGI mendapat uang
GURDACIL sebesar itu,padahal Dia bukanlah Guru?
(sepengetahuan umum Dia
adalah seorang satpam)
Ini karena Sdr.EGI adalah
anaknya pak Damiri yang
merupakan Kepala sekolah di SDN CIGEBANG tersebut.
Sehingga ketika pengajuan
GURDACIL,pak Damiri ini
mungkin saja memasukkan
nama anaknya,sdr. EGI
tersebut kedalam daftar pengajuan GURDACIL.
Kejadian ini adalah nyata
kebenarannya,tapi saya
sebagai masyarakat biasa
sangat sulit dan bingung,harus
kepada siapa mengungkapkan penyelewengan UANG NEGARA INI,mungkin hanya via Internet ini saja saya
ungkapkan siapa tahu ada
pihak penegak hukum ataupun
pihak berwenang lain yang
mau membongkar kasus
ini,terlebih-lebih kepada pihak KEMENDIKNAS.
Wassalam :
JARINGAN PEDULI CIRACAP.
Artikel terkait :
Disini ATAU Disini


SMAN 1 CIRACAP

3 April 2011

SMAN 1 Ciracap terletak di Jalan R.
Natadipura Desa Purwasedar
Kecamatan Ciracap Kabupaten
Sukabumi. Sekolah ini
bersebelahan dengan
pemakaman umum Cicalung.
Berdiri di atas tanah seluas ± 1
hektar. Berawal dari program
pemerintah untuk mendirikan
sekolah-sekolah baru pada tahun
anggaran 2006/2007 yang salah
satunya untuk wilayah Sukabumi
Selatan, maka Surade dipilih
sebagai lokasi pendirian sekolah
baru. Namun kendala muncul
yaitu susah didapatnya tanah
untuk lokasi pendirian maka
dengan sigap tokoh Ciracap
yaitu Bapak Arson Hermansyah
memanfaatkan peluang ini
dengan memberikan
kesanggupan kepada pihak
pemerintah untuk menyediakan
tanah sebagai lokasi
pembangunan sekolah. Akhirnya
semua pihak menyetujui,
pembangunan sekolah
dilaksanakan di Ciracap tepatnya
dipinggir pemakaman umum
Cicalung. Pihak kontraktor mulai
membangun sekolah sampai
selesai. Ruangan yang dibangun
diantaranya ruang kantor, 9
ruang kelas, 2 ruang
laboratorium dan 1 ruang
perpustakaan.
Untuk menjaga bangunan yang
belum berpenghuni maka
diangkatlah seorang penjaga
yaitu Bapak Agus Ahmad dari
Tegal Buleud. Sebagai sekolah
rintisan, sekolah ini tidak lepas
dari sekolah induk yaitu SMAN 1
Jampang Kulon. Mulai tahun
pelajaran 1997/1998 SMAN 1
Ciracap mulai menerima siswa
baru. Ibu Dra. Tati Murniati
sebagai Kepala Sekolah SMAN 1
Jampangkulon menunjuk Bapak
Drs. H. Rosim sebagai pelaksana
harian (plh). Pada waktu itu
belum dikirim guru resmi atau
tetap untuk mengajar di SMAN 1
Ciracap, sebagai pengajar maka
guru-guru dari SMAN 1
Jampangkulon sebagian
ditugaskan untuk mengajar di
SMAN 1 Ciracap ditambah guru
honorer. Pada waktu itu, guru
perintis yang sangat berjasa
diantaranya Bapak Dedi Yunardi
(Fredy) dan Bapak Arif Rahman
Hakim (sekarang guru tetap SMA)
.
Hampir 2 tahun SMAN 1 Ciracap
merupakan bagian dari SMAN 1
Jampangkulon. Selama waktu
tersebut proses penegerian
berlangsung yang akhirnya
bulan April 1998 resmilah SMAN
1 Ciracap sebagai sekolah yang
mandiri. Pada waktu itu pula
guru tetap dan tenaga
administrasi dikirim oleh
pemerintah sebanyak 12 orang
Untuk memperkuat maka
diangkatlah kepala sekolah yang
pertama yaitu Bapak Drs. Andi
Kusnadi sebagai kepala sekolah
yang pertama pada bulan
Nopember 1998. Adapun tenaga
pengajar yang dikirim oleh
pemerintah diantaranya:
1. Ibu Dra. Ria Mariawati (BP),
sekarang sudah pindah ke SMAN
1 Cibadak.
2. Bapak Cucu Salman, S.Ag., (PAI)
pindah ke SMKN 1 Cibinong.
3. Ibu Nency Syifahayati, S.Pd,
(Ekonomi) pindah ke SMAN 1
Jampang Tengah.
4. Ibu Elya Gusti, S.Pd.
(matematika), pindah ke SMAN 1
Nagrak.
5. Ibu Nurmilah, S.Pd. (Bahasa
Inggris).
6. Bapak Drs. Esep Kusmayadi
(Fisika).
7. Bapak Beni Bunyamin, S.Pd.
(sejarah).
8. Bapak Surono, S.Pd. (kimia).
9. Ibu Lina, S.Pd. (pindah ke
Bandung).
10. Ibu Erni, S.Pd. (biologi)
mengundurkan diri.
11. Bapak Joko (administrasi),
pindah ke UNS.
12. Bapak Beben Rusdani ,
sebagai penjaga sekolah
(sekarang guru tetap mata
pelajaran Bahasa Indonesia).
Pada masa kepemimpinan Bapak
Drs. Andi Kusnadi SMAN 1 Ciracap
berbenah diri. Fasilitas ibadah
yaitu masjid didirikan. Ruangan
kelas ditambah sebanyak 3
ruangan. Selain itu panggung
terbuka juga dibangun. Tak lupa,
untuk menunjang kegiatan siswa
dibangun 1 ruangan OSIS
(sekarang laboratorium
komputer). Perataan lapangan
upacara pun dilakukan.
Kepemimpinan Bapak Andi
berakhir pada tahun 2003.
Kemudian digantikan oleh Bapak
Drs. H. Rosim.
Bapak kepala sekolah kelahiran
Sumedang ini tak ketinggalan
untuk memajukan SMAN 1
Ciracap. Beliau memprakarsai
pembangunan lapangan
upacara/olahraga dengan
tembok beton. Selain itu, untuk
keamanan dan ketertiban bagian
depan di pagar dengan tembok.
Tahun 2006 berakhirlah
kepemimpinannya, digantikan
oleh Bapak Ediyama, S.Pd. sampai
sekarang. Pembangunan fisik
pada masa kepemimpinan Bapak
Ediyama diantaranya
pembangunan 1 ruang kelas
baru dan benteng sebelah barat.
Dengan bimbingan para guru,
para siswa meraih berbagai
prestasi baik tingkat lokal
maupun regional. Sampai saat ini
SMAN 1 Ciracap telah meluluskan
8 angkatan. Mulai tahun 2000
sampai 2007. Program yang
dibuka diantaranya IPA dan IPS.
Sedangkan program bahasa
belum dibuka karena masih
terkendala oleh tenaga guru
yang belum memadai.


PETRAEUS INGATKAN RESIKO PEMBAKARAN AL-QUR’AN

7 September 2010

Panglima tertinggi Amerika
Serikat di Afghanistan
Jenderal David Petraeus
memperingatkan nyawa
pasukan Amerika Serikat
akan berada dalam bahaya
jika rencana pembakaran
Quran oleh sebuah gereja di
AS tetap diteruskan.
Dia mengatakan tindakan itu
akan menimbulkan masalah
bukan hanya di Kabul tapi di
semua tempat di dunia.
Pastor Terry Jones, dari Dove
World Outreach Center,
merencanakan menaruh
kitab suci Islam itu di api
unggun untuk memperingati
serangan 11 September.
Unjuk rasa menentang aksi
itu sudah berlangsung di
Afghanistan dan Indonesia.
Hari Senin,6 september 2010 sekitar
500 orang melakukan aksi
unjuk rasa dan mereka antara
lain memekik “matilah
Amerika.”
Masalah besar
Kedutaan Besar AS di Kabul
sudah mengeluarkan
pernyataan yang mengurungkan
rencana oleh gereja di
Gainesville, Florida, yang
tidak berafiliasi dengan
gereja lain.
“Hal itu akan membahayakan
pasukan dan juga
membahayakan semua
usaha,” kata Jenderal
Petraeus dalam sebuah
pernyataan di media AS.
“Itu jelas merupakan
tindakan akan digunakan
Taliban dan bisa
menimbulkan masalah
besar.”
Jenderal Petraeus memimpin
pasukan NATO yang
berjumlah sekitar 150.000
untuk menghadapi
perlawanan Taliban.
Sementara itu Letnan
Jenderal William Caldwell,
komandan misi pelatihan
NATO di Afghanistan,
mengatakan rencana
pembakaran kitab suci sudah
menimbulkan kontroversi
dan keprihatinan.
PGI mengecam
Dalam pernyataan di harian
Wall Street Journal, Terry
Jones, mengatakan AS harus
menyampaikan pesan yang
jelas kepada elemen radikal
Islam.
“Kita tidak lagi dikendalikan
dan didominasi oleh
ketakutan dan ancaman.”
Gereja yang dipimpin Jones
sebelumnya tak banyak
dikenal dan hanya memiliki
sekitar 50 jemaat.
Dalam situsnya mereke
menybut Islam sebagai
“keras dan menekan” yang
memicu protes dari sejumlah
kalangan.
Persekutuan Gereja-gereja di
Indonesia (PGI), awal
Agustus, sudah
mengeluarkan pernyataan
yang mengecam rencana
gereja pimpinan Pastor
Jones.
“Kami tentu saja menghargai
kebebasan berekspresi di
Amerika sebagai bagian dari
hak asasi manusia. Tetapi di
sisi lain kami melihat ini
sebagai kebebasan yang
kebablasan,” kata Sekretaris
Jenderal PGI Gomar Gultom.


Makna Hakiki Bulan Ramadhan

6 September 2010

Bulan
Ramadan sering dikiaskan
dengan perumpamaan Tamu
Agung yang istimewa.
Perumpamaan dan
keistimewaan itu tidak saja
menunjukkan kesakralannya
dibandingkan dengan bulan
lain. Namun, mengandung
suatu pengertian yang lebih
nyata pada aspek penting
adanya peluang bagi
pendidikan manusia.
Karena itu, Bulan Ramadan
dapat disebut sebagai
Syahrut Tarbiyah atau Bulan
Pendidikan. Penekanan pada
kata Pendidikan ini menjadi
penting karena pada bulan
ini kita dididik langsung oleh
Allah Swt.
Pendidikan itu meliputi
aktivitas yang sebenarnya
bersifat umum seperti
makan pada waktunya
sehingga kesehatan kita
terjaga. Atau kita diajarkan
oleh supaya bisa mengatur
waktu dalam kehidupan kita.
Kapan waktu makan, kapan
waktu bekerja, kapan waktu
istirahat dan kapan waktu
ibadah. Jadi, pendidikan itu
berhubungan langsung
dengan penataan kembali
kehidupan kita di segala
bidang. Menata kehidupan
sesungguhnya bagian dari
proses mawas diri atau
introspeksi.
Jadi, bulan Ramadan
sesungguhnya bulan terbaik
sebagai masa mawas diri
yang intensif. Proses mawas
diri melibatkan evaluasi diri
ke wilayah kedalaman jiwa
untuk dinyatakan kembali
dalam keseharian sebagai
akhlak dan perilaku mulai
yang membumi. Tentunya
evaluasi ini didasarkan atas
pengalaman hidup
sebelumnya yaitu
pengalaman atas semua
peristiwa dan perilaku
sebelas bulan sebelumnya
sebagai ladang maghfirah
yang sudah disemai dan
ditanami pohon benih-benih
perbuatan.
Selain itu, evaluasi juga
mencakup taksiran untuk
kehidupan di masa depan,
baik di dunia maupun di
akhirat nanti. Pada bulan
Ramadan sudah seharusnya
bagi umat muslim agar dapat
merubah segala sesuatunya
menjadi lebih baik dari hari-
hari sebelumnya. Dan jika
kita melihat kondisi umat
Islam saat ini belum
mencapai hal itu. Seperti
misalnya di negara kita
Indonesia yang mayoritasnya
beragama Islam tetapi masih
belum terwujud perubahan
ke arah yang lebih baik dari
berbagai aspeknya, yakni
perubahan ke arah Islam.
Dari aspek ekonomi belum
ada perubahan atau
peningkataan sama sekali
bahkan pada bulan ramadan
ini kondisi ekonomi rakyat
Indonesia semakin
memburuk dan
memberatkan mereka.
Dengan melonjaknya harga-
harga sembako dan lain
sebagainya, dari aspek
pemerintahan pun sama,
semakin terlihat jelas
ketidak tegasaan dan
kurangnya perhatian
terhadap masyarakat baik
dalam hal keadilan, hukum,
dan proses yang ditangani
pemerintah terhadap
rakyatnya.
Seperti kasus banyaknya
ledakan gas elpiji yang
memakan banyak korban,
kasus terorisme, kasus
Indonesia-Malaysia dan lain
sebagainya. Kemudian juga,
banyak orang-orang yang
mengartikan bulan Ramadan
ini sebagai momentum
untuk mengadakan
perubahan sesaat yaitu
hanya ketika bulan Ramadan
saja dan setelah selesainya
bulan Ramadan mereka
kembali seperti sebelum
bulan Ramadan.
Jika ditilik lebih jauh, semua
ini terjadi karena Islam tidak
lagi dijadikan sebagai aturan
hidup. Islam hanya dianggap
sebagai agama ritual semata,
padahal Islam adalah tata
aturan hidup yang harus
diterapkan dalam seluruh
aspek kehidupan, baik itu
ekonomi, pemerintahan,
pendidikan dan aspek hidup
lainnya. Saat ini, justru
kebanyakan manusia malah
semakin bangga
menerapkan aturan hidup
sekuler-kapitalisme yang
justru menjadi penyebab
utama keterpurukan umat
manusia.
Bulan Ramadan ini adalah
moment yang tepat untuk
melakukan perubahan, tentu
bukan perubahan sesaat,
tetapi perubahan yang
sebenarnya, yakni
perubahan yang
menyeluruh, perubahan
menjadikan Islam sebagai
aturan hidup. Tentu, untuk
itu dibutuhkan negara yang
akan menerapkannya, yakni
Khilafah Islamiyah. Untuk itu
pula, mari kita optimalkan
dalam memperjuangkan
kembali tegaknya Khilafah
ini. Semoga Ramadan ini
menjadi Ramadan terakhir
kita hidup di bawah naungan
aturan manusia. Wallahu
a’lam bi ash-shawab.


Mengoptimalkan Ramadhan Sebagai Pembangun karakter Bangsa

6 September 2010

Bulan
Ramadan adalah salah satu
bulan penting dan suci tidak
hanya bagi umat Islam,
tetapi seluruh umat di dunia.
Bayangkan, seluruh hal-hal
yang menyimpang dan
mengganggu tatanan sosial-
masyarakat ditertibkan
untuk menyambut dan
mensucikan bulan ini.
Puasa pun diwajibkan bagi
seluruh Umat Islam di dunia
dan tidak menutup
kemungkinan umat yang lain
ikut berpuasa sebagai bagian
dari sinergi strategis untuk
menjaga kerukunan antar
umat beragama. Dampaknya
terlihat cukup signifikan,
aktivitas-aktivitas negatif
berhasil ditekan dan
digantikan dengan aktivitas
dengan nilai-nilai spiritual.
Tidak hanya itu, media massa
pun turut menyambut
dengan meningkatkan
program-program religius di
bulan Ramadan ini.
Mari kita perluas cakrawala
bahwa Ramadan
sesungguhnya merupakan
momen yang
tepat membentuk karakter
bangsa Indonesia. Kita lihat
kewajiban untuk berpuasa
di bulan Ramadan adalah
suatu latihan yang luar biasa
akan makna sebuah
kejujuran.
Siapa yang bisa
membedakan orang yang
puasa dan tidak selain diri
sendiri dan Tuhannya?
Kemudia dalam berkata pun
juga demikian. Semakin
banyak kebohongan, maka
semakin tidak bermaknalah
puasa orang itu. Maka sudah
jelas, orang yang berpuasa
seharusnya terus menjaga
nilai-nilai kejujuran di setiap
aspek kehidupannya. Nilai
kejujuran ini sangat
merupakan tantangan
terbesar yang dialami
Indonesia saat ini di tengah
banyaknya korupsi dan
beragam kasus mafia yang
ada.
Kemudian melaksanakan
puasa dari subuh sampai
maghrib, kewajiban
melaksanakan
salat 5 waktu, anjuran
bersedekah dan tarawih
dengan rakaat 11 dan 23
bukankah
mengajarkan kita untuk
bertanggungjawab?
Bertanggungjawab di sini
adalah melaksanakan
amanah yang memang telah
diperintahkan. Tidak
menambah, mengurangi,
bahkan mengubah substansi
yang ada. Nilai-nilai
tanggungjawab ini wajib
dipelihara tidak hanya dalam
ibadah, tetapi juga dalam
mengerjakan setiap tugas
yang diemban. Maka tidak
akan ada rasa capek dan
malas bila kita memang
bersungguh-sungguh
menempa diri di bulan
Ramadan.
Kita juga harus ingat untuk
apa kita susah payah
berpuasa di bulan Ramadan.
Untuk apa kita puasa dan
salat 5 waktu? Untuk apa kita
mencoba mengkhatamkan
al-Qur’an di bulan ini? Untuk
apa kita salat tarawih sampai
11 bahkan 23 rakaat?
Bukankah ini mengajarkan
kepada kita nilai-nilai
visioner untuk menggapai
surgaNya? Bukankah ini
mengajarkan sebuah
integritas bahwa kita ada di
sini sebagai hamba Tuhan?
Maka nilai visioner dan
integritas kuat ini harus kita
bawa dalam setiap aspek
kehidupan, mulai dari jangka
pendek, menengah, dan
panjang untuk membuat
bangsa Indonesia menjadi
lebih baik.
Tuhan juga mengajarkan
kepada kita melalui
Ramadan ini untuk
menghargai waktu melalui
momen sahur dan berbuka
puasa. Melaksanakan shalat
secara tepat waktu dan
berpuasa sesuai waktu yang
ditetapkan. Kedisiplinan. Itu
hikmah penting yang bisa
diambil. Maka seharusnya
kita heran ketika kita yakin
salat dan puasa kita benar,
tetapi masih sering telat
menghadiri rapat atau
perjanjian yang telah dibuat.
Ramadan juga menjanjikan
pahala puluhan kali lipat atas
kebaikan yang dilakukan
dibandingkan bulan lain.
Perintah zakat, bersedekah,
dan memberikan apa yang
kita miliki secara sukarela
kepada yang membutuhkan
mengajarkan kepada kita
pentingnya berlaku adil dan
peduli terhadap sesama.
Substansi dasarnya bukanlah
berapa banyak beras yang
diberikan, berapa banyak
uang yang disedekahkan,
tetapi apakah dengan itu
semua kita seterusnya bisa
peka terhadap kondisi sosial
di sekitar kita? Itulah poin
yang terpenting sebenarnya.
Ramadan sudah memasuki
10 hari terakhir. Apabila kita
melihat masjid-masjid, maka
di sana terlihat fenomena
rutin dari tahun ke tahun
bahwa semakin hari jamaah
shalat berkurang. Ramadhan
padahal belum berakhir. Hari
kemenangan belum tiba,
tetapi mengapa semangat
sudah luntur? Kalau begitu
ke mana nilai-nilai kejujuran
ini setelah Ramadan
berakhir? Bisakah kita semua
menekan angka korupsi dan
kasus-kasus persekongkolan
kotor yang menunjukkan
krisis kejujuran negeri ini?
Setelah Ramadan ini
berakhir, mampukah kita
mempertahankan
tanggungjawab dan
menjalankan amanah yang
diberikan kepada kita
dengan baik? Mampukah
para pemimpin membuat
sejarah yang mengharumkan
nama Indonesia? Setelah
Ramadan ini berakhir,
mampukah kita untuk terus
visioner dan membuat
bangsa ini memiliki visi yang
jelas ke mana arah yang
ingin dituju? Setelah
Ramadan berakhir,
mampukah kita terus
mempertahankan semangat
kedisiplinan dan menghargai
waktu?
Masih adakah kata terlambat,
excuse, dan ngaret dalam
kamus kita? Bagaimana
dengan rasa adil dan peduli
kepada sesama? Apakah
semua itu akan hilang dan
membuat kita mengacuhkan
kehidupan sosial sekitar kita
ketika zakat fitrah sudah kita
berikan? Apakah hanya
sebatas itu kita memaknai
zakat?
Maka mengapa kita tidak
mengoptimalkan Ramadan
kita kali ini dengan menjaga
semangat dan menerapkan
nilai-nilai yang sudah
diajarkan? Kita tidak boleh
hanya membiarkan mata
kita yang melihat bahwa
Ramadan ini adalah bulan
pembentukan karakter,
tetapi juga harus dimaknai
dengan hati. Yang
diperlihatkan Indonesia saat
ini, Ramadan adalah bulan
menuai amal dan berbuat
baik.
Setelah Ramadan kembali
melakukan maksiat dan dosa
yang menghancurkan negeri
ini. Kita pasti mengetahui
dan heran kenapa koruptor
negeri ini korupsi padahal
sudah banyak melewati
bulan Ramadan? Ramadan
itu hanya sebatas ritual, tidak
diintegrasikan dalam
kehidupan.
Maka dengan 10 malam
terakhir ini, jadikan Ramadan
yang hanya 30 hari ini
sebagai proses penempaan
karakter bangsa Indonesia.
Ambil hikmah sebanyak-
banyaknya dari bulan
Ramadan ini. Terapkan nilai
dan hikmah itu dalam
kehidupan selanjutnya,
karena sungguh ujian yang
lebih berat akan datang
setelah kita melewati bulan
Ramadan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.